Perlawanan Rakyat Indonesia
Perlawanan Rakyat Indonesia – Terhadap Jepang, Dampak & Tujuan
– Setelah Hindia Belanda
menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Indonesia, Jepang mulai menanamkan
system penjajahan menggantikan pemerintah Hindia Belanda. Lajunya kemenangan
pasukan Jepang seperti badai yang mampu menyapu tempat-tempat pertahanan Hindia
Belanda. Namun kemenangan Jepang itu tidak secara fisik saja karena keunggulan
militer dan teknologinya, tetapi dibalik itu sebenarnya terdapat dorongan
bangsa Indonesia sendiri yang bosan terhadap penjajahan Belanda, apalagi Jepang
menggunakan propaganda yang mampu menembus kebencian terhadap kolonialisme pada
umunya.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai
pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945
seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M.
Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada Juli 1942, Soekarno menerima
tawaran Jepang untuk mengadakan kampanye publik dan membentuk pemerintahan yang
juga dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan militer
Jepang. Soekarno, Mohammad Hatta, dan para Kyai didekorasi oleh
Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Tetapi, pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat
bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut.
Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka
mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan
hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya.
Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target
sasaran dalam penguasaan Jepang. Jepang membentuk persiapan kemerdekaan yaitu
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
atau Dokuritsu junbi
chōsa-kai dalam bahasa Jepang.
Badan ini bertugas membentuk persiapan-persiapan pra-kemerdekaan dan membuat
dasar negara dan digantikan oleh PPKI yang bertugas menyiapkan kemerdekaan.
Latar Belakang Jepang Menjajah Indonesia
Pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerang Indonesia dan
segera menguasai Sumatra Selatan. Tanggal 1 Maret dini hari, mereka mendarat di
Jawa dan dalam waktu delapan hari, Letnan Jendral Ter Poorten, Panglima Tentara
Hindia Belanda (KNIL), Menyerah atas nama seluruh angkatan perang Sekutu di
Jawa. Pendudukan bangsa Jepang atas wilayah Indonesia sebagai negara
imperialis, tidak jauh berbeda dengan negara-negara imperialisme lainnya.
Kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia berlatar belakang masalah ekonomi, yaitu
mencari daerah-daerah sebagai penghasil bahan mentah dan bahan baku untuk
memenuhi kebutuhan industrinya dan mencari tempat pemasaran untuk hasil-hasil
industrinya. Sehingga aktivitas perekonomian bangsa Indonesia pada zaman Jepang
sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Jepang.
Masuknya Jepang
ke Indonesia
Pada tanggal 8 Maret 1942, Jenderal Tjarda van Starkenborgh
Stachouwer (Gubernur Jenderal Belanda), Letnan Jenderal Ter Poorten (Panglima
tentara Hindia Belanda), serta pejabat tinggi militer dan seorang penerjemah
pergi ke Kalijati. Dari pihak Jepang hadir Letnan Jenderal Imamura. Dalam
pertemuan itu, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Dengan demikian,
secara resmi masa penjajahan Belanda di Indonesia berakhir. Jepang berkuasa di
Indonesia. Bukan kemerdekaan dan kesejahteraan yang didapat bangsa Indonesia.
Situasi penjajahan tidak berubah. Hanya kini yang menjajah Indonesia adalah
Jepang.
Kedatangan Jepang pada umumnya diterima dengan penuh semangat.
Rakyat percaya bahwa Jepang datang untuk memerdekakan, dan Jepang makin
disenangi karena segera mengizinkan dikibarkannya bendera nasional Indonesia
merah putih, dan dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia raya, dua hal
penting yang dulu dilarang oleh Belanda. Alasan penting kenapa penjajahan
Jepang justru diterima oleh mayoritas kaum terpelajar Indonesia adalah karena
penguasa baru itu dapat lebih meningkatkan status sosial ekonomi orang
Indonesia, hanya dengan kelayakan saja, tanpa kekerasan.
Lebih-lebih lagi, dalam waktu enam bulan sejak kedatangannya,
Jepang memenjarakan semua penduduk Belanda, sebagian besar orang Indo, dan
sejumlah orang Kristen Indonesia yang dicurigai pro-Belanda kedalam kamp-kamp
konsentrasi. Jumlah personil pemerintah militer Jepang hanya sedikit, oleh
karena itu mereka terpaksa mengambil orang-orang Indonesia untuk mengisi
lowongan hampir semua jabatan tingkat menengah, atasan bidang administrasi dan
teknisi yang dulu diduduki orang Belanda atau Indo. Jadi, hampir semua personil
Indonesia dalam bidang pemerintahan, mendapat kenaikan pangkat satu, dan bahkan
sering dua atau tiga tingkat dalam hirarki tempat mereka bekerja. Dari situlah
Jepang mula-mula memenangkan dukungan dari rakyat Indonesia. Karena alasan ini
dan karena mereka diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk, Orang Jepang
tampaknya tidak mendapat tantangan nyata apa pun sebelumnya dari para pemimpin
nasionalis.
Mereka dapat dengan mudah mengambil sumber-sumber kekayaan
Indonesia demi tujuan kepentingan perang mereka, tanpa harus mengadakan
persetujuan dengan kaum nasionalis Indonesia. Berdasarkan keyakinan ini, mereka
membentuk pergerakan tiga A pada tanggal 29 April 1942. Pada saat itu, Jepang
memperkenalkan dan memprogandakan semboyan dan semangat Jepang, yaitu “Nippon
pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon cahaya Asia”.
Pergerakan itu bertujuan mengumpulkan dukungan untuk tujuan perang
Jepang dan kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Jepang terlalu dini untuk
percaya bahwa mereka tidak perlu menggarap nasionalisme Indonesia untuk
mencapai tujuan-tujuannya lebih lanjut, karena kenyataannya orang Indonesia
yang mereka pilih untuk memimpin pergerakan tersebut adalah Mr. Raden
Samsoedin, jelas bukan seoang pemimpin nasionalis eselon pertama. Orang Jepang
segera menyadari kekeliruan perkiraan ini. Meskipun propagandanya hebat,
Pergerakan Tiga A sebenarnya sangat melempem (gagal).
Ternyata kemakmuran ekonomi Indonesia dinomorduakan dibawah
kepentingan Jepang, tanpa suatu imbalan yang memadai bagi Indonesia. Nusantara
dikuras habis bahkan makanannya, minyak dan kinanya, sementara barang-barang
pokok yang sangat diperlukan seperti barang sandang dan onderdil-onderdil tidak
masuk lagi. Jepang mengawasi kurikulum sekolah secara kasar dengan tangan besi.
Mereka memaksakan bahasa Jepang sebagai pengganti bahasa Belanda di
sekolah-sekolah menengah atas, dan sebagai bahasa resmi dikalangan pemerintah.
Ini semua menimbulkan reaksi-reaksi negatif yang tajam.
Yang lebih penting dan lebih meresap dihati hampir seluruh
penduduk Indonesia adalah antagonisme yang tajam yang diciptakan oleh kekerasan
yang keterlaluan, serta kekurangajaran yang sering ditunjukan oleh orang Jepang
dalam pergaulan dengan orang Indonesia. Dalam waktu beberapa bulan saja, Jepang
mulai menyadari bahwa mereka tidak lagi mendapat dukungan dari massa maupun
mayoritas orang Indonesia terpelajar.
Suatu rasa tidak senang terhadap Jepang terus tumbuh di kalangan
rakyat mulai nyata dan ditunjukkan dengan mendadakan pemberontakan sebelum
tahun 1942 berakhir. Jepang mulai khawatir pada permusuhan yang jelas serta
perlawananan yang kadang oleh pelajar sekolah dan mamhasiswa. Mereka cemas
terutama setelah mengetahui bahwa dibentuk organisasi-oraganisasi bawah tanah
yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa ini maupun para pemimpin politik.
Mereka mulai memahami bahwa pergerakan kebangsaan Indonesia adalah
suatu kekuatan yang nyata dan kuat, dengan apa harus dicapai suatu cara
penyelesaian tertentu, jika mereka menghendaki tercapainya tujuan-tujuan penjajahan
yang minim sekalipun. Menyadari hal ini, Jepang mengubah kebijakan politiknya
secara radikal. Pertama-tama mereka mengalihkan perhatian kepada para pemimpin
nasionalis, yang mereka yakini bahwa pemimpin tersbut benar-benar disukai
rakyat.
Tujuan Jepang
Menjajah Indonesia
- Menjadikan Indonesia sebagai daerah
penghasil dan penyuplai bahan mentah dan bahan baker bagi kepentingan
industri Jepang.
- Menjadikan Indonesia sebagai tempat
pemasaran hasil industri Jepang. Indonesia dijadikan tempat pemasaran hasil
industri Jepang karena jumlah penduduk Indonesia sangat banyak.
- Menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk
mendapatkan tenaga buruh yang banyak dengan upah yang relatif murah.
Dengan tujuan tersebut maka Jepang harus mampu membungkus tujuan
yang jelas-jelas merugikan bangsa Indonesia dengan berbagai propaganda agar
diterima oleh bangsa Indonesia. Propaganda Jepang yang cukup menarik simpati
rakyat Indonesia adalah sebagai berikut :
- Jepang adalah “saudara tua” bagi
bangsabangsa di Asia dan berjanji membebaskan Asia dari penindasan bangsa
Barat.
- Jepang memperkenalkan semboyan “Gerakan
Tiga A”: Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Cahaya
Asia.
- Jepang menjanjikan kemudahan bagi bangsa
Indonesia, seperti janji menunaikan ibadah haji, menjual barang dengan
harga murah.
- Jepang memperkenankan pengibaran bendera
merah putih bersama bendera Jepang Hinomaru.
- Rakyat Indonesia boleh menyanyikan lagu
“Indonesia Raya” bersama lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo”.
- Pada zaman Jepang Indonesia diperintah
oleh tiga pemerintahan militer. Struktur pemerintahan militer Jepang itu
adalah sebagai berikut.
- Pemerintahan militer Angkatan Darat
(Tentara Keduapuluh lima) untuk Sumatera dengan pusatnya di Bukittinggi.
- Pemerintahan militer Angkatan Darat
(Tentara Keenambelas) untuk Jawa-Madura dengan pusatnya di Jakarta.
- Pemerintahan militer Angkatan Laut (Armada
Selatan Kedua) untuk daerah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku dengan
pusatnya di Makasar.\
Tidak ada komentar:
Posting Komentar